Press Release Pemuda Setempat : “Pecundang Malam Minggu”

Press Release

10462969_890645047616145_8129713518797879715_n

PLATFORM 3, Focus No. 2

Pemuda Setempat

“Pecundang Malam Minggu”

 21 Juni – 20 Juli 201

Pembukaan: Sabtu 21 Juni 2014. Pukul 18.00 WIB. perform oleh Konstipasi dan Eddfagg

Berzine Bareng – Workshop oleh Cucukrowo Mekgejin
28 Juni 2014 pk. 15.00

Cucukrowo Mekgejin, sebuah zine fisik independen asal Bandung akan berbagi kiat-kiat menyusun sajian cerita segar, miring, dan menyehatkan. Pada kesempatan ini juga akan dirilis Cucukrowo vol. 18, 19, dan 20. Workshop terbuka bagi siapa saja, dengan biaya Rp1.500,00 (seribu lima ratus) u/ paket workshop dan konsumsi.
CP: Sandy 0857 4591 0919

Artist Listen
5 Juli 2014 pk. 15.00
Selain mengeluarkan pernyataan atau statement, tentunya seniman harus juga menjadi pendengar yang baik. Kami ingin mendengar pendapat anda tentang kelompok Pemuda Setempat dan proyek Pecundang Malam Minggu. Hadiri sesi Artist Listen pada 5 Juli 2014 untuk memberi suara. Kritik / Saran / Keluhan / Cobaan diterima dengan lapang dada.

Kuiz
21 Juni 2014 – 5 Juli 2014
Pemuda Setempat akan mengadakan kuiz. Kuiz akan dibuka pada pembukaan pameran, Sabtu, 21 Juni 2014 dengan pengumuman pertanyaan.
Peserta dengan jawaban terbaik akan diumumkan sebagai pemenang pada sesi Artist Listen, Sabtu, 5 Juli 2014. Cobalah peruntunganmu dan menangkan hadiah-hadiah unik dan menarik dengan mengikuti kuiz ini.

 

PLATFORM 3 dengan bangga mempersembahkan pameran dari Pemuda Setempat – “Pecundang Malam Minggu” dalam program FOCUS No.2.

Pemuda Setempat merupakan sebuah kelompok seni rupa yang dibentuk pada akhir tahun 2012. Mereka memulainya dengan menyelenggarakan sebuah pameran sebagai sebuah showcase sekaligus sarana pernyataan yang sederhana lewat karya-karya yang sengaja dibebaskan arahnya. Keseluruhannya muncul sebagai kumpulan ungkapan individu yang terbentuk dari dinamika antara kungkungan akademik dengan cita-cita ekspresi pribadi yang murni dan naif—seperti linduran nakal anak-anak manis sekolahan.

Pada Mei 2013, diinisiasi pameran bersama mereka yang kedua, “Menghajat Seni”, dengan mengundang beberapa seniman muda dari luar kelompok yang dianggap memiliki semangat serupa, seperti Tonsa Rrroch, Iwan Adhi Suryo, serta Bonggal Hutagalung. Semenjak itu, kelompok Pemuda Setempat dikenal sebagai salah satu pergerakan seni rupa oleh orang-orang muda yang mencoba menghadirkan semangat alternatif dalam praktik berkeseniannya—yang kasual dan luwes, namun kritis dan cenderung sardonic sekaligus apathetic.

10446715_890644970949486_8096126967309499138_n

Pandangan ini mereka lanjutkan dalam inkarnasi pameran mereka yang ketiga, yaitu Pecundang Malam Minggu. Judul tersebut merupakan sebuah bentuk peminjaman majas aptronim—yaitu jabaran sifat atau pekerjaan, bagi apa yang dianggap oleh kelompok ini sebagai kondisi orang muda kebanyakan dalam masa dan gaya hidup sekarang. Pameran ini menampilkan instalasi ruang dari sebuah rumah imajiner yang teracak komposisinya, dengan jejak sisa-sisa kejadian yang tercecer sebagai akibat dari satu jalan narasi abstrak pada suatu malam minggu.

Narasi ini dibangun dengan bertolak dari utopia kita yang universal terhadap kegiatan ekstra pada akhir minggu dan malam minggu. Ideal dalam diri kita tentang berekreasi, bersenang-senang, atau beristirahat menjadi perwujudan bagi mimpi-mimpi kecil tentang keberadaan kita. Keaslian dan keberadaan diri yang hadir secara lebih melalui kegiatan pada waktu luang menjadi kunci pemahaman bagi pameran ini, di mana obsesi dan hasrat-hasrat ditubuhkan melalui benda-benda yang berhubungan langsung dengan keinginan kita untuk menjadi kita sendiri. Dalam proyek pameran ini, Pemuda setempat juga mengundang tiga seniman tamu untuk berpartisipasi: Bonggal Hutagalung, Bandu Darmawan serta Fajar Abadi.

10457687_890874627593187_8013046415048484878_o

Pemuda Setempat

Pemuda setempat merupakan sebuah kolektif seni rupa yang dibentuk oleh beberapa seniman dan penulis muda di Bandung pada tahun 2012. Semenjak dibentuk mereka cukup aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan pameran independen. Pemuda Setempat terdiri dari : Alfredo Tohonan (L. 1990), Argya Dhyaksa (L. 1991), Averoes (1990), Irvan Aulia (L. 1990), Muhammad Vilhamy (L. 1990), Puja Anindita (L.1990), Sandy Adithia (L. 1991), Satria Prabhawa (L. 1991), Valery Marsiano (L. 1991), Yacobus Ari (l. 1991), Yeremia Martin (1991), Yosefa Aulia (L. 1991).

Pemuda Setempat mengusung kelokalan yang apa adanya, seperti percakapan sehari-hari, candaan, dan hal-hal keseharian yang terkait dari pengalaman anggotanya.

Pemuda Setempat menyatakan dirinya sebagai salah satu pergerakan seni rupa oleh orang-orang muda yang mencoba mengusung semangat alternatif dalam praktik berkeseniannya—yang kasual dan luwes, namun kritis dan cenderung sardonic sekaligus apathetic.

English

Pecundang malam minggu*

Saturday Night is a faraway yet also a near drawn point.

Everything is buzzing, in silence, or making up, or getting ready, or protracted, the quantity of time is accelerating, yet also stopping and moving rearwards at the same time. Possessions and reach: rationale occupies a different world where dream is the most directly encountered thing. Bodily desires, ideal obsessions, quests, recreation, affirmation, are being provided with a vast norm of time on which a moment of interlude is universally provided.

Pecundang Malam Minggu is a dream about introversion, not of social afiliations and honor, but of self appraisal and awareness. When oneself becomes the other. An awareness about deepest desires emerging from shallowest influences, and of shallowest desires emerging from deepest influences. This exhibition is a form of proclaimer and outpour of loser-ness. Pecundang Malam Minggu is a strand of encounter with the absurdity of the outside world. This juncture—on its introverted side, always return us to the pool of personal influence without caring how tumultuous it is outside.

Pemuda Setempat in our Focus No. 2 showcases site-specific works with transformative factors on personal absorbance and desire, and also personal influence and action measures in which we do to accomplish it: our personal drive.

In the event of someone saying “we’ll see who will have the last laugh”, unbeknown to us, we are sometimes the one who are laughing about ourselves. This is Pecundang Malam Minggu.

*Pecundang Malam Minggu: translates roughly to saturday night losers—the ones without decent or appreciated activity that they do on saturday night(s). e.g. : slackers spending time alone without romantic partner.

BIO

Pemuda Setempat is an art collective founded by several young artists and writers in 2012 in Bandung. Ever since its formation, the group has been actively practicing in contemporary art with independent exhibition events. Pemuda Setempat are: Alfredo Tohonan (b. 1990), Argya Dhyaksa (b. 1991), Averoes (b. 1990), Muhammad Vilhamy (b.1990), Puja Anindita (b.1991), Sandy Adithia (b. 1991), Satria Prabhawa (b. 1991), Valery Marsiano (b.1991), Yacobus Ari (b. 1991), Yeremia Martin (b.1991), and Yosefa Aulia (b.1991)

They carry a spirit of localness as what it is, garnering influences from such as daily conversations and catchphrases, jokes, and everyday experiences of its members.

They also proclaim themselves as one of the younger movements who try to convey an alternative spirit in their practice—which is casual and adaptable, yet critical and also tend to be sardonic and apathetic at the same time.

 

Info Lanjut: https://infoplatform3.wordpress.com/focus/focus-no-2-pemuda-setempat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s