Activities: Salon Volume 1: Conversation in New Music

11710018_1137114129635901_8361079599383835196_o

Salon Volume 1: Conversation in New Music

Performance by:
Bin Idris
Riar Rizaldi
Duto Hardono

Panel Discussion:
Jack Simanjuntak & Bob Edrian Triadi

This Friday at Platform3 Bandung
Open gate: 7 PM
Free but limited seats
Reservation: Endira – 08179255915

Wacana tentang Salon berawal dari perjalanan saya dan Riar Rizaldi ke Jepang, kebetulan Februari lalu kami mendapat kesempatan berpartisipasi di Asian Meeting Festival di Tokyo dan Kyoto.Event yang diprakarsai oleh Ensemble Asia ini mengundang sekian belas musisi dari Asia Tenggara untuk saling berkolaborasi dan ber-improvisasi satu sama lain. Bagi saya pribadi ini adalah pengalaman yang amat menyegarkan, masing-masing musisi memiliki latar belakang dan pendekatan musikal yang berbeda, Sound Art, Noise, Improvisation, music concrete bahkan musik tradisional, wilayah-wilayah yang menurut saya masih sangat asing dalam dinamika musik lokal.

Pengalaman ini lantas membuat kami penasaran untuk mencoba melaksanakan hal yang serupa di kota kami sendiri, tentu dengan konsep yang sedikit berbeda juga dalam skala yang jauh lebih kecil. Kami kemudian mengajak Bob Edrian Triadi, musisi rekanan kami yang kebetulan sedang mengambil master seni rupa dengan tema penilitian tentang sound art, juga Duto Hardono, seniman yang memang banyak menggunakan elemen suara pada karyanya. Kami berempat menyusun Salon dari gagasan yang sederhana yaitu menciptakan ruang untuk musik eksperimental/sound art di Bandung. Musik eksperimental Bandung sebelumnya memang sudah cukup ramai bergeliat dibawah prakarsa Common Room, namun karena satu dan lain hal aktifitas mereka sudah tidak semeriah dulu lagi.

Volume pertama ini akan menjadi penjajakan dan perkenalan tentang project ini: performance dari 3 musisi dengan pendekatan yang berbeda dilanjutkan dengan obrolan santai bersama Jack Arthur Simanjuntak (dosen Sound Design UPH) dan Bob Edrian Triadi tentang musik-musik “baru” itu sendiri. Perhelatan ini kedepannya mungkin tidak hanya akan menghasilkan showcase dan forum diskusi tapi juga melahirkan rilisan-rilisan musik eksperimental entah dalam format kaset, cd ataupun digital.

– Haikal Azizi


Esai oleh Bob Edrian Triadi

Salon Volume 01: A Conversation in New Music

New music merupakan sebuah istilah yang mencakup beragam pemahaman dan definisi. Makna ‘baru’ dalam istilah new music bisa saja dipahami secara dangkal: ‘baru saja muncul’, musik yang baru saja dirilis; ataupun ditelaah lebih jauh melalui metode sejarah sebagai sebuah musik yang mulai berkembang di Abad ke-20. Pada pemahaman kedua, kebaruan dalam new music tidak hanya mencakup kebaruan dalam hal kelahiran ataupun kemunculannya, tetapi juga berkaitan dengan metode bagaimana musik itu dimainkan atau lebih jauh lagi, bagaimana sebuah bunyi dihasilkan dan dimaknai. Pergeseran pemahaman terhadap musik di Abad ke-20 tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi serta gagasan maupun ideologi-ideologi yang muncul pada abad tersebut.

Musik, atau lebih luas lagi, seni yang berkembang di Barat pada Abad ke-20, dikenal dengan sebutan musik modern ataupun seni modern, merupakan salah satu manifestasi dari sebuah ideologi atau narasi besar bernama Modernisme, yang mulai berkembang di akhir Abad ke-19. Dalam ranah seni secara umum, ideologi ini menekankan, salah satunya, unsur kebaruan dalam hal metode maupun gagasan berkarya seni. Hal ini kemudian mendorong lahirnya sebuah istilah yang sangat melekat pada ideologi Modernisme dalam seni, art for art’s sake, seni untuk seni. Semangat kebaruan ini akhirnya memunculkan kecenderungan eksplorasi-eksplorasi seniman yang kemudian melahirkan banyak ‘-isme’, diantaranya, dalam ranah seni rupa, seperti kubisme, fauvisme, ekspresionisme, futurisme, dan lain-lain. Dalam ranah seni musik, paham Modernisme kemudian melahirkan kecenderungan-kecenderungan seperti musik neoklasik, minimalisme, musik eksperimental, hingga istilah sound art yang dalam perkembangannya seringkali bersifat abu-abu di antara ranah seni musik dan seni rupa.

Pada akhir dekade 1960-an, dalam sejarah seni rupa Barat ditandai dengan kemunculan gaya pop art, periode Modernisme mulai bergeser dan digantikan dengan istilah Posmodernisme. Meskipun secara umum gagasan Modernisme dianggap telah usang dan ditinggalkan, pada kenyataannya periode Posmodern tidak menghilangkan kecenderungan eksplorasi kebaruan seniman. Meskipun kebaruan tersebut tentunya memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebaruan dalam periode modern. Periode posmodern memunculkan kecenderungan-kecenderungan seperti ketertarikan seniman pada budaya-budaya lokal sehingga seni kemudian tidak lagi bersifat universal.

Gerakan Fluxus yang muncul tidak lama setelah kelahiran pop art dianggap sebagai salah satu gerakan yang mewakili periode posmodern. Gerakan ini melibatkan gabungan berbagai bidang kreatif diantaranya musisi, seniman, hingga desainer grafis. Salah satu nama yang terlibat dalam gerakan Fluxus, yang kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam bidang seni musik, yaitu John Cage, merupakan sosok yang dianggap mewakili pergeseran paradigma seni musik di masa itu. Karya berjudul 4’33’’ yang diciptakan John Cage pada tahun 1952 dianggap sebagai salah satu karya revolusioner yang mencakup pemahaman baru terhadap bunyi dalam musik. Di samping John Cage, gerakan Fluxus juga memunculkan sebuah gagasan mengenai integrasi berbagai bidang yang dikenal dengan istilah intermedia. Gagasan ini dikemukakan oleh Dick Higgins dalam tulisannya mengenai filosofi artistik Fluxus. Nama-nama lain yang berafiliasi dengan gerakan Fluxus antara lain George Maciunas dan Joseph Beuys yang dianggap sebagai pelopor happening dan performance art, Nam June Paik sebagai pelopor video art, Yoko Ono, Yoshi Wada, La Monte Young, dan banyak seniman dan musisi lainnya yang terlibat dalam gerakan yang justru menolak untuk disebut sebagai sebuah gerakan ataupun gaya seni ini.

Periode posmodern kemudian berkembang menjadi periode yang kita kenal saat ini sebagai periode kontemporer. Sebuah periode dimana batasan-batasan berkarya menjadi sangat cair hingga memunculkan istilah seperti ‘anything goes’ untuk menggambarkan betapa kebebasan berekspresi seniman hampir dianggap tidak terbatas. Dari penjelasan mengenai perkembangan seni di atas, bagaimanakah kemudian istilah new music ataupun musik di era kontemporer ini dapat dipahami dan dimaknai? Perlu dicatat pula bahwa perkembangan seni di Indonesia tentunya tidak sepenuhnya sejalan dengan perkembangan seni di Barat. Namun setidaknya, di era informasi yang ditandai dengan kehadiran internet, perkembangan pemahaman maupun gagasan mengenai musik secara umum sedikit banyak telah tersebar merata dan dapat lebih mudah diakses, meskipun selera individu tetap berperan dalam penyaringan informasi-informasi mengenai musik di masa kini.


Pada tahun 2002, The Wire, sebuah majalah musik bulanan asal Inggris, menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan berjudul Undercurrents: The Hidden Wiring of Modern Music yang di dalamnya mencakup pembahasan mengenai perkembangan musik modern. Salah satu penulis yang turut menyumbangkan pemikirannya dalam buku ini, David Toop, penulis, komposer, kurator yang juga seorang profesor di London College of Communication, dalam tulisannya yang berjudul Humans, are They Really Necessary? Sound Art, Automata, and Musical Sculpture mengungkapkan:

If there are answers to the question of how music will be performed, enacted or experienced in the 21st Century, then some of them will be discovered in the past and future of sound art.

Sound art, sebuah istilah yang muncul pertama kali pada tahun 1983 ketika William Hellermann menjadi kurator untuk pameran yang berjudul Sound/Art di The Sculpture Center, New York, AS. Dalam sebuah video berjudul Sound in Context (2009) dengan durasi kurang lebih 30 menit, penggunaan medium bunyi dalam ranah seni visual yang kemudian dikenal dengan istilah sound art dipaparkan melalui metode wawancara dengan beberapa narasumber dari berbagai bidang, diantaranya seniman, kurator, editor musik, dan lain sebagainya. Video yang diproduseri oleh Jonathan Webb dan Ashley Wong dari Sound and Music, sebuah media yang menampung gagasan serta karya-karya baru dalam musik ataupun bunyi, antara lain mengungkap bagaimana posisi medium bunyi di dalam art world dan pengkategorisasiannya. Dalam video ini, David Toop mengungkapkan bahwa sound art merupakan sebuah aktivitas yang tidak memiliki rumah, dalam artian bahwa sound art berbeda dengan musik dan berbagai bentuk seni lainnya. Hal ini tentu berseberangan dengan apa yang ia ungkapkan sebelumnya di The Wire. Menurut Toop, sound art memiliki sejarah yang hibrid. Di akhir video, Toop menyebutkan bahwa apabila terdapat lebih banyak penelitian yang dilakukan terhadap budaya, dalam hal ini budaya audio, maka akan muncul lebih banyak gagasan bagi seniman untuk bekerja dengan medium bunyi.
Pada 4 Oktober 2013, New York Times edisi global merilis sebuah artikel yang ditulis oleh Ella Delany berjudul Sound and its power as new art form, yang diantaranya membahas mengenai semakin berkembangnya medium bunyi dalam penciptaan karya seni. Dalam artikel tersebut, diantaranya terdapat kutipan pernyataan Gascia Ouzounian, seorang staf pengajar di Sonic Arts Research Center, Queen’s University, Belfast, yang menyebutkan bahwa sound art sedang mengalami ‘momen’-nya. Ia melanjutkan dengan sebuah pernyataan yang mengungkapkan bahwa belakangan ini muncul gelombang pameran-pameran yang berusaha mengangkat sound art dan menyebarkannya kepada publik yang lebih luas.
Barbara London, kurator untuk pameran besar sound art pertama di Museum of Modern Art, New York pada Agustus 2013, berjudul Soundings: A Contemporary Score menyatakan:

Artists brought sound into their work a long time ago. Yet, working with the ‘material’ of sound as an art form and its conceptualization has recently expanded dramatically. In New York, as well as Stockholm, London, Milan, Kobe, Melbourne and Delhi, art center known as ‘alternative spaces’ emerged and for decades have supported the evolving sonic arts. Sound art is a global phenomenon.

Pernyataan Barbara London di atas memperkuat isu-isu yang berkaitan dengan semakin berkembangnya sound art di seluruh dunia.


Modern music, new music, contemporary music, hingga sound art merupakan istilah-istilah yang sekilas saling tumpang tindih. Apakah istilah serta perkembangan sound art kemudian bisa dianggap sebagai sebuah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mengenai pemahaman musik di era kontemporer? Apabila dibahas lebih lanjut, kategorisasi maupun klasifikasi mengenai jenis ataupun istilah musik tentu tidak akan pernah ada habisnya. Oleh karena itu, seiring dengan berkembangnya gagasan serta medium-medium baru untuk menghasilkan karya seni, dalam hal ini musik, diperlukan wadah diskusi yang tidak hanya mencakup pelaku-pelaku di bidang musik secara khusus, melainkan diperlukan juga pemahaman serta pandangan lain di luar musik itu sendiri.
Pada pertengahan tahun 2015, terbentuk sebuah kelompok yang mengusung nama Salon, kelompok ini merupakan gabungan beberapa seniman yang meskipun berasal dari institusi yang sama, seni rupa, masing-masing memilih medium bahkan bidang keahlian yang berbeda ketika mereka berkarya. Nama Salon sendiri terinspirasi dari istilah yang memiliki makna ‘pertemuan’ ataupun ‘perkumpulan’ yang pertama kali muncul di Italia pada Abad ke-16 dan berkembang pesat di Prancis di sepanjang Abad ke-17 hingga Abad ke-18. Makna Salon kemudian mengalami perkembangan, maknanya dapat diartikan menjadi sebuah wadah ataupun perkumpulan yang melibatkan kaum intelektual, penyair, hingga filsuf dimana mereka saling bertukar gagasan. Kelompok Salon yang bertujuan untuk menciptakan wadah berkarya serta diskusi spesifik mengenai musik dan bunyi ini melibatkan nama-nama seniman seperti Haikal Azizi dan Riar Rizaldi sebagai pencetus gagasan kelompok Salon serta Duto Hardono yang kemudian bertanggung jawab atas pemilihan nama Salon itu sendiri. Penulis sendiri ikut terlibat untuk merangkum, memetakan serta mempertajam wacana Salon.
Haikal Azizi atau juga dikenal dengan pseudonym Bin Idris merupakan seorang musisi dengan akar musik delta blues, blues rock, hingga psychedelic rock yang selain memiliki ketertarikan terhadap musik-musik esoterik, ia juga banyak mengeksplorasi teknologi echo, reverb, loop dan delay dengan menggunakan gitar akustiknya. Unsur bawah sadar yang mendukung aktivitas improvisasi musiknya kemudian menjadi salah satu karakteristik kekaryaan Bin Idris. Interaksi Bin Idris terhadap layer-layer gitar buatannya sendiri sedikit banyak memunculkan impresi dari gitaris serta komposer asal Jerman, Manuel Gottsching, yang dikenal dengan karya-karyanya di Ash Ra Tempel dan Ashra. Karakteristik repetisi yang dihadirkan Bin Idris juga bisa dicerap sebagai perpaduan antara minimal music di wilayah musik akademis dengan musik krautrock di wilayah musik populer. Meskipun sekilas berada dalam ranah yang sama, dalam hal ini musik repetisi ataupun minimal music, Bin Idris merupakan antitesis dari Erik Satie yang seringkali disebut sebagai phonometrician (seorang yang mengukur bunyi).
Riar Rizaldi adalah seorang seniman visual sekaligus filmmaker yang memanfaatkan kekagumannya pada teknologi audio visual dan keterikatannya satu sama lain untuk kemudian dijadikan inspirasi ataupun dorongan berkarya. Riar yang juga aktif sebagai musisi noise kemudian memanfaatkan ketertarikannya dalam hal merombak instrumen maupun objek-objek analog untuk dapat menghasilkan bebunyian yang bersifat ‘disturbing’. Kecenderungan bebunyian disturbing ataupun noise yang dihasilkan oleh rekayasa objek analog sedikitnya menggambarkan apa yang dicita-citakan seorang futuris bernama Luigi Rusollo dalam manifestonya pada tahun 1913 berjudul The Art of Noises. Selain berbicara mengenai noise sebagai salah satu bagian besar dari apa yang membuat sebuah kebudayaan berkembang, Rusollo juga dikenal dengan mesin pembuat noise ciptaannya yang diberi nama intonarumori. Nama-nama lain seperti Nam June Paik hingga Ryoji Ikeda juga nampaknya menjadi pengaruh yang cukup kuat dalam kekaryaan Riar untuk Salon kali ini.

Duto Hardono merupakan seorang seniman visual yang seringkali menggunakan medium instalasi serta objek-objek readymade seperti kaset dan piringan hitam dalam karya-karyanya. Di antara ketiga seniman yang terlibat di Salon Volume 01, pengaruh John Cage nampaknya paling terasa pada kekaryaan Duto. Seperti halnya Riar Rizaldi, Duto juga memiliki ketertarikan yang cukup besar pada musik noise, dan pada karya yang akan ditampilkannya, Duto menawarkan sebuah sensasi yang dihasilkan dari apa yang dikenal dengan istilah musique concrete. Melihat ketertarikan Duto pada objek-objek readymade di ranah seni rupa, tak heran apabila Duto kemudian seolah mempertemukan Marcel Duchamp dengan Pierre Henry ataupun Francis Dhomont melalui musique concrete, yang dalam beberapa sisi memiliki karakteristik yang hampir sama dengan pengkomposisian objek-objek readymade (musique concrete merupakan sebuah teknik komposisi musik eksperimental dengan menggunakan suara-suara hasil rekaman sebagai objek materialnya).
Ketiga seniman di atas akan mencoba mempresentasikan pemahaman mereka terhadap musik dan bunyi dalam Salon Volume 01 yang bertajuk A Conversation in New Music. Gagasan utama yang diangkat dalam perhelatan perdana Salon ini tidak bertujuan untuk mendefinisikan apa itu new music, melainkan sebuah gagasan yang diharapkan dapat memicu ataupun mendorong lahirnya diskusi-diskusi yang kemudian menghasilkan pemahaman-pemahaman baru mengenai musik dan bunyi.

– Bob Edrian Triadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s