Art Talks Vol 2

Diskusi Seni dan Pasar Vol. II/Platform3

Dari Biennale ke Art Fair:
Seni Rupa Indonesia di Forum Global

Jum’at, 22 Juli 2011, pukul 14.00 – 17.00

di PLATFORM3
Jalan Cigadung Raya Barat no. 2
Bandung

Gratis

Tiga dasawarsa yang lalu, globalisasi hanya dibicarakan sebagai sebuah gelombang yang niscaya akan menerpa sistem-sistem besar di Indonesia: ekonomi, budaya, politik, teknologi, serta berbagai kombinasi di antara keempat sistem itu. Kini dinamika
proses dan dampaknya adalah kenyataan konkrit yang sehari-hari ada di depan mata: aktifitas produksi, distribusi dan konsumsi seni rupa Indonesia telah berubah menjadi jaringan lintas negara yang rizomatik, seolah tanpa pusat. Oleh karena berbagai eksesnya yang tak terduga, dampak globalisasi harus selalu ditelaah dalam konteks yang spesifik, melalui pengamatan yang rinci terhadap berbagai ranah, termasuk seni rupa.

Pada era 1990-an, gejala globalisasi seni rupa mulai populer di Indonesia melalui istilah ‘internasionalisasi’ dan/atau ‘regionalisasi’. Gelombang perubahan pada masa itu tercermin langsung melalui meningkatnya frekuensi berbagai kegiatan lintas negara yang melibatkan Indonesia dan negara-negara lain di Asia dan Pasifik. Pada masa itu, kartografi baru medan seni rupa secara praktis terbentuk oleh adanya dua kekuatan baru (terutama Australia dan Jepang). Terselenggaranya pameran besar periodik beskala biennale atau triennale
yang didanai oleh institusi-institusi pemerintah atau museum di kedua negara membuktikan hal itu. Seni rupa kontemporer Indonesia menjadi bagian penting dalam era Asia-Pasifik 1990-an tersebut.

Pada 2000-an, didorong oleh pesatnya perkembangan seni rupa Cina dalam jaringan pasar internasional, seni rupa Indonesia mengalami perluasan melalui jaringan lintas negara yang melibatkan agen-agen partikelir yang didominasi oleh aktifitas para penyalur seni dan galeri komersial (non-pemerintah). Galeri-galeri Indonesia mulai terlibat secara aktif di berbagai art fair internasional. Beberapa balai lelang besar yang membuka cabang di Asia Tenggara berhasil memunculkan klien-klien baru multinasional yang mendorong ‘nilai’ seni rupa Indonesia secara signifikan.

Dalam kurun waktu dua dekade, internasionalisasi seni rupa kontemporer Indonesia mengalami perubahan secara signifikan. Pertanyaannya: Faktor estetik dan ekstra estetik apa yang mendorong
perubahan-perubahan konstelasi seni rupa dalam dua dekade terakhir? Bagaimana sebenarnya posisi seni rupa kontemporer Indonesia di arena internasional? Bagaimana dampak globalisasi / internasionalisasi seni rupa kontemporer Indonesia pada ranah lokal?

Diskusi ini bermaksud mengulas fenomena perubahan tersebut melalui perspektif sejumlah praktisi seni rupa (kurator, seniman dan galeriwan) Indonesia.

SESI I

Jum’at, 22 Juli 2011 | Pkl. 13.15 – 14.20 WIB

Pembicara
J. Ariadhitya Pramuhendra (seniman), Radi Arwinda (seniman), Wiyoga Muhardanto (seniman)
Moderator
Heru Hikayat

Dalam sesi pertama ini, kita akan diajak berbagi pengalaman dengan seniman-seniman muda yang – di usia mereka (rata-rata 26 tahun)  – sudah berhasil menapak reputasi yang cukup baik di arena global.

Selain itu, pembahasan juga akan menajamkan sejumlah hal yang berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai
berikut: Sejauh mana kesadaran seniman ini bisa dikemukakan sehubungan dengan telah terjadinya pergeseran ‘paradigma’ yang tidak saja menyangkut “soal-soal teoritik”, melainkan juga berkenaan dengan “praktik seni” secara global? Bagaimana posisi seni rupa Indonesia di mata seniman? Di zaman ekonomi pasar sekarang, bagaimana seniman menilai hubungan antara seni dan uang? Masihkan biennale seni rupa penting? Lalu, bagaimana seniman memandang siknifikansi art fair?

Kesuksesan yang diterima demikian cepat bisa menciptakan pressure terhadap seniman. Apakah seniman kemudian punya waktu untuk mengembangkan dirinya? Banyak orang mengatakan bahwa seniman tidak akan pernah bisa independen dari pasar ekonomi global, maka dengan cara seperti apa seniman-seniman seharusnya mengatur strategi menghadapi situasi ini? Dan pokok-pokok apa yang harus didahulukan untuk menyiasati persaingan?

Sesi II
Jum’at, 22 Juli 2011 | Pkl. 14.50
– 16.30 WIB

Pembicara
Amir Sidharta (penulis seni rupa, pendiri Sidharta Auction), Deddy Irianto (pendiri Langgeng Art Foundation), Agung Hujatnikajennong (kurator Selasar Sunaryo Art Space)
Moderator
Aminudin TH Siregar

Dewasa ini, tidak sedikit komentator seni yang menyamakan pamor art fair setara, bahkan lebih tinggi dari bienale. Provokasi ini tercermin dari pernyataan: art fairs are the new biennale/biennale are the new art fairs atau biennale becomes art fairs and art fairs becomes biennale. Bagaimana kesadaran ini berlaku di mata galeris maupun art dealer di tanah air?

Dealership belum terlalu berkembang di Indonesia. Di lapangan, kerja profesi ini selalu tumpang-tindih dengan kerja sebagai galleries. Mary Boone, seorang art dealer terkemuka, membagi dua tipe art dealer: (1) Tipe Kahnweiler, yaitu dealer yang menemukan seniman ketika mereka memulai karirnya. (2) Tipe Duveen, yaitu dealer yang mempromosikan seniman
yang memang sudah mapan.

Bagaimana tipe-tipe ini bisa mewakilkan praktik dealership di tanah air? Apa sesungguhnya kelemahan kita dalam konteks ini, terkait dengan promosi seniman Indonesia di pasar seni global? Bagaimana kompetisi intergaleri bisa berlangsung secara sehat di tingkat lokal maupun global dan apa yang paling didahulukan untuk dilakukan?

Komersialisasi seni memicu terjadinya demistifikasi dan deauratisasi sejumlah komponen di medan seni yang pernah dicemaskan para kritikus pada akhir 1980-an. Kenyataan ini (nyaris) terjadi. Direktur Art Basel Samuel Keller mengakui bahwa: “When I entered the art world, critics had an aura of power, now they are more like philosopher, respected but not as powerful as collectors, dealers or curators.”

Kalau memang telah terjadi pergeseran tersebut, apa yang masih tersisa dari fungsi sebuah kritik? Apa peran kritikus di era global sekarang ini?

Internasionalisme
membuat mata kita rabun. Kita selalu mengira bahwa produk seni rupa kita hampir selevel dengan Barat (Eropa-Amerika). Yang kita lupakan adalah kita tidak pernah melihat kembali kompetitor kita di kawasan Asia Selatan, misalnya, yang jauh lebih dinamis dan ditilik dari pelbagai segi jauh lebih baik. Kita tidak pernah mau meninjau kekuatan seni rupa kontemporer dari Amerika Selatan, misalnya yang juga sama-sama melakukan perkembangan. Rabun dekat ini semakin membuat kita sakit mata. Kalau memang produk kita unggul, mengapa setelah puluhan tahun “internasionalisme” yang dicita-citakan tidak terwujud? Apa masalah seni rupa Indonesia sesungguhnya?

Dicermati dari segi kelemahan maupun kelebihan (infrastruktur maupun potensi-potensi lainnya) seni rupa Indonesia dalam menghadapi persaingan global hari ini, dalam skala 0 untuk ‘mustahil’ dan 10 untuk ‘menjadi leading di Asia’, di angka berapa kita letakkan penilaian dan
mengapa?

Selain hanya bersikap pasif, sebab hanya berpartisipasi (kalau diundang saja) dalam gemerlap “global art party”, sebenarnya kontribusi seperti apa sih yang diberikan oleh seni rupa Indonesia di forum-forum global, katakanlah sejak satu dasawarsa terakhir atau sejak Brisbane (Asia-Pacific Trienalle) hingga Hongkong kemarin?

Di luar masalah itu, idealisasi-idealisasi semacam apa (kalau ada) yang sekiranya masih bisa dilakukan oleh seorang kurator Indonesia di era global dan mengapa demikian?

Tak kalah penting untuk dicermati melihat seni rupa Indonesia dalam konteks tertentu yang memberikan gambaran yang lebih kongkrit tentang di mana kita sebenarnya. Alasan ini bisa dipakai untuk memperoleh kerangka baru untuk bisa memikirkan kembali arah yang hendak disasar. Tentu saja gambaran tersebut berkaitan erat dengan usaha melakukan orientasi kembali terhadap strategi praktik seni rupa Indonesia di masa
mendatang: bagaimana pemahaman akan hal ini bisa dipaparkan dari perspektif kurator muda?

Balai lelang adalah institusi yang semakin di sorot sejak 4 – 5 tahun terakhir ini. Mereka dituduh memotong jalur distribusi yang selama ini berada di bawah wewenang galeri karena balai lelang menerima langsung karya dari studio seniman. Balai lelang pun dianggap pihak yang bertanggung jawab dalam memunculkan nilai nominal semu yang secara ilusif “mengganggu” harga-harga di arena primary market. Harga tertinggi yang dicapai oleh seorang seniman pada hari ini di lelang tidak berbanding lurus dengan harga retailnya. Belum lagi soal absennya sejarah seni. Karya penting dari seniman penting dalam sejarah bisa kalah oleh seniman kemarin sore. Gejala ini terjadi secara global. “This is business, it ain’t art history,” kata Brett Gorvy dari Christie’s. Di balai lelang, harga karya-karya Marcel Duchamp sekalipun bisa kalah oleh
Murakami.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Bagaimana kita bisa menganalisis kejanggalan-kejanggalan dari permasalahan ini? Tetapi sebelumnya, bagaimana sebenarnya role of auction house pada akhir dekade 1990-an dan mengapa pergeseran fungsi lelang bisa terjadi di zaman sekarang? Bagaimana menjelaskan peran siknifikan balai lelang dalam mempromosikan produk seni rupa Indonesia di kancah global?

Sehubungan dengan prilaku “konsumen”. Bagaimana kita mencermati gejala perubahan dari – apa yang disebut: the interest and buying habits of collectors, sekurangnya di tingkat lokal? Kalau bisa disebut trend, apa sih kriteria-kriteria trend yang sedang digandrungi oleh para pembeli seni, misalnya dari segi ukuran, tema, teknik atau harga yang dibandrol? Mengapa?

Apa sebenarnya yang mesti tidak dilakukan oleh sebuah balai lelang seni?
Bagaimana sejarah masuknya balai lelang internasional di
Indonesia?

Slide Show

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s