Agus Cahaya

Artist in Residence : Agus Cahaya

994612_10201072906599665_994915187_n

Memorimemorimemori
Proyek Khusus Agus Cahaya

21 September – 6 Oktober 2013

Pembukaan dan artist’s talk: 21 September 2013, pukul 16.00

PLATFORM3
Jl. Cigadung Raya Tengah no. 40
Bandung 40191

P: +62 22 82522727
E: mail.platform3@gmail.com
http://www.infoplatform3.wordpress.com
http://www.platform3.net


Agus Cahaya, perupa kelahiran Bandung yang bermukim di Bali, sejak April 2013 menjalani program residensi seniman di PLATFORM3. Dalam pameran tunggalnya yang terakhir di Emmitan Gallery Surabaya tahun lalu, Agus menampilkan lukisan-lukisan tentang kota. Tepatnya tentang tumpukan citra khas kehidupan urban. Dalam program residensi bersama PLATFORM3, Agus juga memulai prosesnya dengan berpikir ulang mengenai kota. Kota Bandung, yang telah lebih dari 20 tahun ditinggalkan.


Agus mulai dengan napak tilas. Ia mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering dikunjungi. Tempat-tempat yang punya sejarah pribadi. Dari kunjungan-kunjungan ini ia mengumpulkan banyak sekali foto. Dia sengaja mengumpulkan foto dalam jumlah amat banyak hingga ia sendiri merasa jenuh. Foto-foto itu bertumpuk dan sempat terasa monoton.


Lukisan-lukisan Agus biasanya berlanggam realis. Sebelumnya ia telah banyak melukiskan adegan-adegan dari kehidupan urban. Kali ini, tumpukan citra yang telah ia kumpulkan memicu munculnya ide baru. Ia memandang citra di foto-foto itu sebagai jejak-jejak dari memori. Ia lalu menyederhanakan citra menjadi garis-garis semata. Ia menyebutnya “garis kontur”. Baginya garis kontur merepresentasikan secara visual citra-citra yang pernah terlihat. Kontur ini kemudian ditumpukan, hingga berlapis-lapis. Baginya tumpukan ini adalah upaya membebaskan diri dari paparan yang kronologis. Karena memori sesungguhnya tidak melulu soal kronologi. Memori acak dan bertumpuk-tumpuk. Proyek ini memamerkan lukisan dan video yang dikerjakan Agus Cahaya selama masa residensinya di PLATFORM3.

Coblong-20130919-01316

Artist Statement

Memorimemorimemori
Program residensi di PLATFORM3 membuat saya pulang lagi ke Bandung, setelah lebih dari 20 tahun tinggal di Bali. Ada banyak yang berkecamuk dalam pikiran, menyangkut persoalan yang sangat pribadi dan efek dari memori-memori dari masa lalu. Saya putuskan, mulai dengan napak tilas, mengunjungi kembali tempat-tempat yang punya arti pribadi, guna menyusun kembali memori di ingatan saya.
Bandung di satu sisi berubah, di sisi lain tidak. Saya kemudian menyadari bahwa yang terbentuk dalam benak bukan sekadar citra visual, melainkan memori yang secara psikologis bertumpuk-tumpuk.

Saya pikir, jejak-jejak ingatan saya itu bisa dipindahkan ke sebidang kanvas. Saya kemudian mencoba menggantikan mata dengan kamera, ingatan dengan ruang penyimpanan di laptop. Saya mulai mengambil foto dari ruang-ruang yang pernah saya kunjungi 20 tahun yang lalu sebelum pindah ke Bali. Saya mengumpulkan foto-foto sampai jenuh. Citra-citra dari setiap ruang yang saya anggap menarik dan mewakili ingatan saya, terkumpul amat banyak hingga terkesan monoton. Kesan dari satu citra ke citra lain, bisa jadi sangat biasa dan subjektif. Saya coba menjalin tumpukan dengan tumpukan dan melihat jejak-jejak dari citra-citra itu. Citra-citra dipilih untuk mewakili momentum (saat/keadaan) dan timing (saat/waktu).

Citra disederhanakan menjadi berwarna monokrom, lalu ditumpukan. Saya kira, kemungkinan hasilnya akan merepresentasikan citra tanpa mengindahkan kronologinya.
Keputusan saya yang lain adalah “garis kontur”. Garis kontur mengambil jejak-jejak, rekaman dari keterbatasan memori saya. Garis kontur merepresentasikan secara visual citra-citra yang pernah terlihat. Kontur saya anggap garis luar yang bisa ditangkap dengan jelas. Kontur bukan suatu metode, tapi garis luar ini saya anggap paling bisa mewakili dalam menyederhanakan apa-apa yang terekam. Saya pikir ini seperti mengumpulkan input secara cepat dengan cara membuat sketsa.
Garis kontur menentukan jejak memori dari satu citra ke citra lain.

Hal ini saya anggap merupakan pengumpulan data-data visual dari waktu dan ruang tertentu, bukan suatu citra piktorial yang saya representasikan. Dengan garis-garis kontur ini, setiap satu citra diwakili satu warna yang berbeda dari citra berikutnya, begitu seterusnya, hingga terbedakan penandaan dari satu momen ke momen lain. Lapisan-lapisan waktu demi waktu yang bertumpuk menjadi suatu pembebasan dari ingatan yang terlalu deskriptif. Secara psikologis kemungkinan itulah yang saya ingin gambarkan di pameran ini.
(Agus Cahaya)

Coblong-20130919-01313

Residensi dan Pameran Agus Cahaya hasil kerjasama PLATFORM3 Bandung dengan Emmitan Contemporary Art Gallery Surabaya

1265184_10201106975411364_939543453_o 1275299_10201106741725522_1771565517_o 1277608_10201106736205384_1261549476_o 1278052_10201106779966478_1085390384_o

English

Agus Cahaya, a Bandung-born artist who resides in Bali, has been joining PLATFORM3’s artist residency since April 2013. In his last solo exhibition at the Emmitan Gallery Surabaya last year, he presented city paintings. To be precise, his paintings depicted a pile of typical images of urban life. In PLATFORM3’s residency program, Agus started his process by rethinking the idea of a city: Bandung, a place that he hasn’t been living in for the past 20 years.

Agus started with visiting the places that he used to visit in the past. These places have personal historical values. From these visits he collected a lot of pictures. He did that on purpose until he was overwhelmed. The pictures piled up and at one moment, they felt monotonous.

Agus’s painting style is usually realistic. He has previously painted a lot of scenes from urban life. This time, the piled-up images that he has collected triggered new ideas. He perceived the images of the pictures as traces of one’s memory. He then simplified the images into mere lines. He called them “contour lines.” For him the contour lines visually represent the images that were once seen. These contour lines then were arranged into layers. For him these piles are the effort to free oneself from a chronological exposure. Real memories are not designed chronologically. Memories are random and piled up.

This project presents paintings and videos from Agus Cahaya, produced during his residency at PLATFORM3.

Coblong-20130919-01315

AGUS CAHAYA

Born in Bandung, Indonesia, 1972
Education:

LPK Prima Ganesha Bandung – Computer; Junior Programmer
Studied drawing of human body, in Sanggar Senen-Kemis, Sanur, Bali

Awards:
2008 Akili Museum Art Awards Finalist
2001 Indonesia Art Awards 2001 Finalist

Residency Program:
2013 Platform3, Bandung
Solo Exhibitions:
2012 “Pantulan Citra Berulang”, Emmitan CA Gallery, Surabaya
2009 “Light Undercover, Artsphere Gallery, Jakarta
Selected Group Exhibitions:
2012 “Illustrasi Cerpen Kompas 2011”, Bentara Budaya Jakarta
2011 “HOMO LUDENS 2”, Emmitan CA Gallery, Surabaya
2010 “Indonesia Art Fair”, Ritz Carlton, Jakarta by Emmitan CA Gallery
“Bandung Initiative #5 : Veduta”, Vanessa Art Link, Jakarta
2009 “C Art Show – Contemporary Art Exhibition”, officiated by Artsphere Gallery, Jakarta
“Janus”, T’Art Space, Ubud – Bali
“Up & Hope”, D’Peak Art Space, Jakarta
“Real*i+ti”, Vanessa Art Link, Jakarta
“Indonesia Contemporary Drawing”, held by Andi’s Gallery, National Gallery, Jakarta
“Poli(Chromatic)”, V Art & Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta
Visual Art Exhibition “Guru Oemar Bakrie”, Jogja Gallery, Yogyakarta
“Milestone”, Vanessa Art Link, Jakarta
“Reborn”, H2 Gallery, Semarang
“Fascination”, Andi’s Gallery, Jakarta
2008 “The 3rd Beijing International Art Biennale 2008”, Beijing, China
“13th Asian Art Biennale Bangladesh 2008”, Bangladesh Shipakala Academy, Dhaka – Bangladesh
“Art with an Accent, Art in contemporary culture”, Group Exhibition of China, Japan, Korea and Indonesia, Guang Zhou – China
“Asian Water Color Exhibition”, Neka Museum, Ubud – Bali
“Expanding Contemporary Realism”, Akili Museum of Art, Jakarta
“Cosmetic Culture”, Kendra Gallery, Bali
“Merti Bumi, Voices of Anxieties and Hopes concerning Nature”, Lerep Arts
Neighborhood, Ungaran – Semarang
2007 “Shanghai International Art Fair 2007”, Shanghai, China
2007 “Surabaya Art Festival”, Emmitan Gallery & Orasis Gallery, Surabaya Tour Exhibition
“A Beautiful Death”, Bentara Budaya Yogyakarta, Orasis Gallery Surabaya, Darga
Gallery Bali, Gedung Perpustakaan Kota Malang
2006 “The 7th Nude Crouquis Exhibition” Seoul – South Korea
“The Real Thing”, Lirik Art Gallery, Bandung
2005 “Bali Art Biennale Exhibition”, Komaneka Gallery, Ubud – Bali
“Pre Bali Art Biennale Exhibition: Space and Scape”, Griya Santrian, Sanur – Bali
“…read a Realism”, Nafa Art Gallery, Denpasar – Bali

Agus Cahaya’s residency and exhibition are a collaboration of PLATFORM3 Bandung with Emmitan Contemporary Art Gallery Surabaya.

Download catalogue here: Memorimemorimemori-Catalogue

Installation View:

15376_10151834374907107_881562216_n 935974_10151834374497107_394008953_n 1231501_10151834374747107_788989409_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s